Showing posts with label etika bisnis. Show all posts
Showing posts with label etika bisnis. Show all posts

Wednesday, May 3, 2017

Artikel Etika Bisnis : Perbandingan Etika Bisnis yang Berlaku di Amerika dan Indonesia

Perbandingan Etika Bisnis yang Berlaku di Amerika dan Indonesia
(Untuk Melengkapi Tugas Etika Bisnis)


Disusun oleh :
Panji Aldio Utama
18214387
3EA47
Dosen : Bpk. Adi Kuswanto


UNIVERSITAS GUNADARMA
KARAWACI
2017 



BAB 1
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Moralitas dan norma adalah hal penting yang perlu diperhatikan dalam berbagai aspek kehidupan. Nilai-nilai yang mencakup, menentukan baik buruknya sebuah tindakan tertentu dalam kehidupan bermasyarakat.
Etika dan norma yang berkembang di masyarakat memiliki dasar yang seragam dengan bentuk yang bermacam-macam. Manusia sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari aturan kehidupan bermasyarakat. Begitu pun dengan kegiatan usaha atau berbisnis. Seorang pelaku usaha dituntut untuk memperhatikan etika moral atau tata cara kegiatan berbisnis yang baik.
Etika berbisnis yang baik secara singkat disimpulkan bahwa kegiatan usaha tersebut tidak mengandung unsur merugikan pihak konsumen atau pihak lain. Etika berbisnis di berbagai negara tidak sama, ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti sejarah dan budaya setempat yang berkembang didalamnya. Dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan dan mengidentifikasi etika bisnis yang berlaku di negara Amerika sebagai bahan studi atau bandingan etika bisnis yang berkembang di Indonesia sampai sekarang.

1.2. Rumusan Masalah
Ada beberapa perumusan masalah yang akan dijabarkan dalam penulisan ini agar bisa lebih dipahami dan dimengerti oleh para pembaca. 
1.    Apakah yang dimaksud Etika Bisnis ?
2.    Bagaimana praktek etika bisnis di Amerika Serikat ?
3.    Apakah ada perbedaan etika bisnis yang berlaku di Amerika dengan yang di Indonesia ?


BAB 2
PEMBAHASAN



2.1. Pengertian Etika Bisnis
Etika bisnis adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan cara melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang masih berkaitan dengan personal, perusahaan ataupun masyarakat atau bisa juga diartikan pengetahuan tentang tata cara ideal dalam pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal secara ekonomi maupun sosial.
Dalam menerapkan etika dalam berbisnis para pelaku bisnis harus memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku di dalam masyarakat. Disamping itu etika bisnis juga bisa diterapakan dan dimunculkan dalam perusahaan sendiri karena memiliki keterkaitan dengan profesional bisnis. Perusahaan menyakini prinsip bisnis yang baik adalah yang memperhatikan etika-etika yang berlaku, seperti menaati hukun dan peraturan yang berlaku.

2.2. Prinsip Etika Bisnis
Secara umum etika bisnis harus ditempuh oleh perusahaan agar tercapai tujuan yang telah ditetapakan. Oleh karena itu etika bisnis memiliki beberapa prinsip yang digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan yang dimaksud. Adapun prinsip-prinsip etika dalam berbisnis adalah Prinsip otonomi dan Prinsip kejujuran.
a. Prinsip Otonomi
Dalam prinsip otonomi etika bisnis perusahaan bebas memiliki kewenangan sesuai dengan bidang yang telah dikuasai Sesuai dengan visi dan misi perusahaan tersebut. Contoh otonomi dalam etika bisnis perusahaan tidak bergantung dengan perusahaan lain dalam mengambil keputusan bisnis. Perusahaan tersebut bebas mengambil keputusan apapun yang sesuai dengan visi misinya. Dalam menjalankan prinsip otonomi ini 2 perusahaan atau lebih bisa berkomitmen dalam menjalankan etika bisnis ini, namun masing-masing perusahaan dimungkinkan untuk mengambil pendekatan yang berbeda-beda dalam menjalankanya. Sebab masing-masing perusahaan memiliki kondisi karakter internal dan strategi yang berbeda dalam mencapai tujuan serta visi misi dari perusahaan tersebut.
b. Prinsip kejujuran
Prinsip kejujuran dalam etika bisnis merupakan nilai yang paling dasar untuk mendukung keberhasilan kinerja perusahaan. Kegiatan bisnis akan bisa berhasil dan sukses bila setiap individu yang terlibat dalam kegiatan bisnis menerapkan prinsip kejujuran. Pada dasarnya prinsip kejujuran ini harus ditanamkan dalam setiap kegiatan bisnis. Hal yang paling penting dalam menerapakan prinsip ini dalam bisnis adalah dengan memulai menerapakan prinsip ini pada diri kamu dahulu. Jika kamu sebagai pimpinan perusahaan mampu untuk menerapakan prinsip ini, tentu akan menjadi contoh bagi semua karyawan yang bekerja di perusahaanmu.

2.3. Etika Bisnis di Amerika
Ada dua poin penting dalam budaya Amerika yang perlu diketahui dan dipahami yaitu individualism dan egalitarianism. Individualisme dan egalitarianisme adalah dua elemen penting dalam budaya Amerika yang memiliki efek signifikan terhadap etika bisnis mereka.
Menurut penelitian dan studi Geert Hofstede seorang Profesor Manajemen Internasional di University of Limburg di Maastricht Belanda dan ahli terkenal di budaya bisnis telah melakukan studi komprehensif tentang nilai-nilai di tempat kerja Amerika Serikat memiliki tingkat individualisme yang tinggi dalam masyarakatnya.
Ini adalah salah satu alasan di balik Amerika yang menunjukkan perilaku lebih mandiri dan anggota keluarga dekat cenderung membentuk ikatan yang luas dengan orang lain. Budaya Amerika menekankan  praktis penghargaan terhadap mereka yang mengambil inisiatif dalam menggapai tujuannya sebagai prestasi pribadi. Status dan usia tidak terlalu menjadi masalah dalam memandang prestasi seseorang.
Sementara itu egalitarianisme atau konsep kesetaraan adalah penting juga. Amerika percaya bahwa mereka harus diberi hak yang sama kewajiban sosial yang sama dan kesempatan yang sama. Kesetaraan bagaimanapun masih didasarkan pada prestasi individu. Amerika merasa dan percaya bahwa bekerja keras dan melakukan yang terbaik layak sukses dan keuntungan finansial yang lebih baik.
Konsep pengaruh kesetaraan bagaimana Amerika memperlakukan orang yang lebih kaya lebih tua dan figur otoritas. Amerika umumnya tidak menunjukkan rasa hormat banyak orang yang secara finansial dan / atau sosial lebih tinggi dalam status. Gelar profesional yang sangat jarang digunakan dan orang-orang lebih suka memanggil satu sama lain dengan nama pertama mereka.
Budaya bisnis Amerika sangat berpusat pada tugas masing-masing individu. Amerika akan langsung mengatakan tidak jika mereka menginginkannya. Itu normal bagi mereka untuk mengkritik kinerja orang-orang di depan umum, sehingga anda tidak akan merasa malu jika anda di kritik.
Selain itu ketepatan waktu dianggap sakral dalam budaya bisnis Amerika. Orang-orang diharapkan untuk menghadiri pertemuan dan janji pada waktu dan tenggat waktu diharapkan akan bertemu di titik. Kegagalan untuk melakukannya sering disukai dan dipandang sebagai sangat tidak sopan. Menjadi tepat waktu dan memenuhi deadline yang lebih ditekankan karena waktu adalah uang filsafat yang dipraktekkan oleh masyarakat bisnis secara umum.
Amerika bersedia bekerja berjam-jam dan lembur karena etos kerja mereka. Kantor / bisnis hirarki juga sedang dipraktekkan dengan stres yang diberikan pada struktur organisasi perusahaan. Namun karena individualisme dalam masyarakat Amerika dan budaya bisnis lingkungan kerja yang sangat kompetitif dengan penekanan pada kompetensi pribadi profesionalisme dan akuntabilitas individu.
Sehubungan dengan beberapa etika bisnis jabat tangan perusahaan menandakan awal dan akhir dari pertemuan bisnis. Tampilkan ketulusan dan bunga ditunjukkan dengan mempertahankan kontak mata langsung selama salam awal dan selama bagian penting dari percakapan. Bertukar kartu nama dipandang sebagai kegiatan biasa atau kasual dan mengikuti tidak ada aturan formal.
Ketika Anda melakukan bisnis di AS adalah penting bahwa seseorang memperhatikan pedoman dan aturan ditentukan oleh kebijakan bisnis prosedur dan hukum. Hati-hati ketika memberikan hadiah karena prakteknya seringkali dianjurkan oleh banyak perusahaan karena gerakan itu dapat dengan mudah oleh disalahartikan sebagai suap.

2.4. Etika Bisnis di Indonesia
Etika bisnis dalam tinjauan di indonesia bisa kita refleksikan pada kondisi krisis ekonomi sekarang ini. Semakin berlarutnya penanganan krisis membuktikan bahwa etika bisnis di indonesia masih buruk baik itu di kalangan swasta dalam hal ini pengusaha, pemerintah baik dari pusat maupun daerah di segala tingkatan. Adanya krisis ekonomi di indonesia disebabkan oleh kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak transparan, akuntabel, tidak memperdulikan kepentingan rakyat dan yang lebih utama adalah maraknya praktek KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Kinerja pemerintah bisa kita lihat pada gambaran menyeluruh dari kondisi bangsa kita sekarang ini. Kebijakan ekonomi pada waktu itu bila ditinjau dalam prespektif etika bisnis banyak yang tidak objektif (masuk akal). Hal itu bisa dilihat pada angka-angka sebagai indikator ekonominya.
Kita melihat bahwa Indonesia selama 30 tahun sebelum adanya krisis dipandang sebagai negara yang berhasil dan dipuji Bank Dunia sebagai negara yang pembangunannya telah berhasil dan dimasukkan sebagai bagian dari keajaiban Asia Timur.Tapi setelah adanya krisis kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita terbelenggu oleh utang yang tidak akan habis sampai dengan sepuluh keturunan anak cucu kita.Di jaman Soeharto utang dianggap sebagai pendapatan pembangunan, dikatakan utang khususnya luar negeri dalam kondisi sustainable jika tidak mencapai 20 % dari total GDP. Kondisi ini tentunya akan sangat memberatkan pemerintah di kemudian harinya. Karena utang adalah indikator dalam menentukan soliditas keuangan.
Tidak saja masalah utang yang mengakibatkan indonesia didera krisis, masalah lainnya adalah tentang krisis perbankan di Indonesia. Hal itu terjadi karena bank-bank banyak yang telah bermain curang. Bank-bank kita telah digerogoti oleh pemiliknya sendiri. Pada waktu itu bank-bank yang kalah clearing dan harus diskors ditolong oleh pemerintah melalui fasilitas diskonto. Kejadian itu tidak sekali atau dua kali tapi sudah berlangsung lama. Dampaknya adalah pada kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Praktek kecurangan perbankan  lainnya adalah tentang pembuatan bank-bank fiktif yang hanya digunakan untuk menarik modal.
Rendahnya etika bisnis yang terlihat dari kebijakan pemerintah yang tidak masuk akal tercermin juga pada hal lain, yaitu kerusakan yang disebabkan oleh praktek KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme). Menurut Kwik Kian Gie KKN adalah sumber dari permasalahan krisis yang terjadi di indonesia. KKN adalah the roots of all evils. Setiap proyek baik proyek yang didanai oleh pihak luar negeri atau pemerintah selalu digerogoti oleh para koruptor. Yang terjadi kemudian adalah otak kita telah dipenuhi oleh otak proyek. Karena dengan adanya proyek tersebut dampaknya adalah pada pemasukan ke kantong-kantong pribadi yang ujung-ujungnya korupsi.
Kalau kita melihat dari fenomena diatas tentunya kesalahan terbesar dalam memahami keberadaan etika dan moral dalam suatu bisnis di Indonesia terletak pada kecenderungan untuk memisahkan keduanya dari keberadaan sistem kemasyarakatan. Etika dan moral dalam pandangan yang berkembang di Indonesia cenderung dilihat sebagai sebuah variabel yang semata-mata tumbuh dari dalam diri seseorang atau sekelompok orang. Jadi tidak diwujudkan dalam sebuah lingkup yang lebih besar misalnya dalam sebuah negara atau perusahaan.
Dengan demikian, etika dan moral cenderung dipandang sebagai variabel bebas yang sama sekali tidak tergantung pada kondisi kualitas sistem kemasyarakat secara menyeluruh. Kecenderungan seperti itu antara lain tampak pada kecenderungan untuk menyamakan keberadaan etika dan moral seseorang atau sekelompok orang dengan keberadaan mutiara. Sebagaimana dikemukakan oleh sebuah ungkapan, "Sekali mutiara akan tetap mutiara. Walaupun dilemparkan ke dalam lumpur sekali pun, ia akan tetap mutiara." Artinya, seseorang atau sekelompok orang yang memiliki etika dan moral baik, akan tetap menjadi orang baik dalam sebuah sistem kemasyarakat yang jahat sekalipun. Kesimpulan seperti itu, walaupun dapat ditemukan pada pribadi-pribadi tertentu, mustahil dapat dibenarkan pada tingkat kehidupan bermasyarakat secara umum.
Etika bisnis merupakan bagian Code of Conduct (pedoman tentang perilaku etis) suatu entitas usaha. Pemerintah dan lembaga-lembaga Pemerintah dapat kita anggap di sini sebagai entitas usaha, yang memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk produk kebijakan publik maupun produk barang/jasa publik. Di dalam Code of Conduct inilah tercantum nilai-nilai etika berusaha sebagai salah satu pelaksanaan kaidah-kaidah Good Governance. Dengan kata lain, pembahasan etika bisnis tidak dapat terlepas dari pembahasan muaranya, yakni governance.
Di dalam literatur ilmu ekonomi pembangunan, konsep governance meliputi berbagai faktor kelembagaan dan organisasi (termasuk perangkat peraturan) yang mempengaruhi operasi perekonomian dan membentuk kebijakan publik pemerintah. Kapasitas governance Pemerintah yang baik diyakini akan memberikan hasil adanya suatu pasar di berbagai sektor yang berjalan secara efisien dan kemampuan negara untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi secara efektif.
Secara umum, etika adalah ilmu normatif penuntun manusia, yang memberi perintah apa yang mesti kita kerjakan dalam batas-batas kita sebagai manusia. Etika menunjukkan kita dengan siapa dan apa yang sebaiknya dilakukan. Maka, etika diarahkan menuju perkembangan manusia dan mengarahkan kita menuju aktualisasi kapasitas terbaik kita. Sebagai contoh, jika kita rasional, maka etika memberi perintah bahwa kita harus bertindak secara masuk akal. Itu akan membawa kita menuju ke keutamaan.
Mengapa suatu entitas perlu menerapkan nilai-nilai etika berusaha sebagai bagian dari pelaksanaan good governance? Jawabannya adalah dengan adanya praktek etika berusaha dan kejujuran dalam berusaha dapat menciptakan aset yang langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan nilai entitas. Banyak kasus di berbagai negara yang telah membuktikan hal tersebut.
Sayangnya, sebagai manusia para penguasa dan pebisnis sangat rentan terhadap godaan untuk melanggar etika. Tujuan para pebisnis adalah untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Filosofi yang dominan bagi para pebisnis adalah cara mana yang membuat uang paling banyak. Tujuan hidup mereka didasarkan atas pertanyaan ini. Orang-orang macam ini seperti yang dikatakan oleh Charles Diskens dalam Martin Chuzzlewit, "Semua perhatian, harapan, dorongan, pandangan dan rekanan mereka meleleh dalam dolar. Manusia dinilai dari dolarnya." Theodore Levitt mengatakan bahwa para pebisnis ada hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk menciptakan dan mengalirkan nilai kepuasan dari suatu keuntungan hanya pada dirinya dan nilai budaya, spiritual dan moral tidak menjadi pertimbangan dalam pekerjaaannya.


BAB 3
KESIMPULAN


Etika bisnis adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan cara melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang masih berkaitan dengan personal, perusahaan ataupun masyarakat atau bisa juga diartikan pengetahuan tentang tata cara ideal dalam pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal secara ekonomi maupun sosial. Etika bisnis memiliki beberapa prinsip yang digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan yang dimaksud. Adapun prinsip-prinsip etika dalam berbisnis adalah prinsip otonomi dan prinsip kejujuran.
Di dalam etika bisnis yang berlaku di Amerika Individualisme dan egalitarianisme adalah dua elemen penting dalam budaya Amerika yang memiliki efek signifikan. Menurut penelitian dan studi Geert Hofstede seorang Profesor Manajemen Internasional di University of Limburg di Maastricht Belanda dan ahli terkenal di budaya bisnis telah melakukan studi komprehensif tentang nilai-nilai di tempat kerja Amerika Serikat memiliki tingkat individualisme yang tinggi dalam masyarakatnya. Selain itu egalitarianisme atau konsep kesetaraan penting juga di Amerika. Amerika percaya bahwa mereka harus diberi hak yang sama kewajiban sosial yang sama dan kesempatan yang sama. Budaya bisnis Amerika sangat berpusat pada tugas masing-masing individu. Selain itu ketepatan waktu dianggap sakral dalam budaya bisnis Amerika. Orang Amerika bersedia bekerja berjam-jam dan lembur karena etos kerja mereka. Ketika Anda melakukan bisnis di AS adalah penting bahwa seseorang memperhatikan pedoman dan aturan ditentukan oleh kebijakan bisnis prosedur dan hukum.

Sedangkan etika bisnis yang berlaku di Indonesia sangat rendah, hal ini terlihat dari kebijakan pemerintah yang tidak masuk akal selain itu tercermin juga pada hal lain, yaitu kerusakan yang disebabkan oleh praktek KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme). Oleh karena itu perlu adanya praktek etika berusaha dan kejujuran dalam berusaha agar dapat menciptakan aset yang langsung atau tidak langsung yang dapat meningkatkan nilai entitas.



Daftar pustaka 
https://www.academia.edu , Etika Bisnis di Dunia

Tuesday, May 2, 2017

Artikel : Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

(Untuk Melengkapi Tugas Etika Bisnis)


Disusun oleh :
Panji Aldio Utama
18214387
3EA47
Dosen : Bpk. Adi Kuswanto


UNIVERSITAS GUNADARMA
KARAWACI
2017 


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kegiatan bisnis terus berkembang dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan zaman. Dikatakan berkembang karena sebenarnya bisnis sudah ada sejak nabi muhammad saw bahkan bisa jadi sebelum zaman nabi muhammad sudah ada aktifitas bisnis. Nabi Muhammad merupakan salah satu tokoh islam yang sukses dalam berbisnis. Awalnya beliau mempelajari ilmu berbisnis dari pamannya ketika diajak berdagang ke syiria sejak umur 12 tahun.
Setelah itu beliau memulai bisnisnya sendiri dengan berdagang, dengan bermodalkan pengalaman serta praktik lapangan yang beliau pelajari dari pamanya. Beliau melakukan bisnisnya dengan penuh dedikasi dan keuletan. Beliau juga menggunakan sifat fathanah, shidiq, dan amanah. Sehingga hal itu telah menjadikan nabi sebagai seorang businessman yang jujur dan terpercaya, hingga beliau dianugerahi sebuah gelar al amin.
Cara-cara nabi dalam berbisnis itulah yang menyebabkan terbukanya berbagai pinjaman komersial di kota mekkah dan sekitarnya hingga membuka peeluang kemitraan antara nabi dan pemilik modal.
Salah satu pemilik modal tersebut adalah seorang pengusaha wanita dan konglomerat akhirnya menjadi istri nabi, wanita itu bernama khadijah binti khuwailid, ia menawarkan suatu kerjasama berdasarkan prinsip mudharabah atau profit sharing. Khadijah memberikan pembiayaan sementara kepada nabi lalu beliau mengontribusikan keterampilan administrasi, pemasaran, dan kewiraswastaanya dengan catatan bagi hasil dari keuntungan yang telah disepakati bersama wanita yang menanam modal tersebut. Dengan keterampilan yang dimiliki Nabi  Muhammad saw dalam berwirausaha tentu mendatangkan keuntungan bagi khadijah dan mitra-mitra usahanya yang tersebar diseluruh jazirah arab. Dua puluh tahun lamanya beliau menggeluti dunia bisnis dan perdagangan sehingga beliau dikenal sebagai seorang entrepreuner yang tangguh di yaman, syiriia, bashra, yordania dan kota kota lainya di jazirah arabia yang merupakan pusatnya bisnis bersama india dan china pada waktu itu.
Ada begitu banyak hal yang digunakan sebagai modal berbisnis, tidak hanya modal berupa uang, bahkan etika berbisnis pun bisa menjadi modal utama bagi para pebisnis yang menginginkan kesuksesan. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas tentang etika bisnis dalam islam yang dicontohkan nabi Muhammad saw, agar bisa menambah wawasan kita dalam berbisnis.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah etika berbisnis yang diajarkan dalam Islam dan etika seperti apa yang perlu diterapkan dalam aktivitas berbisnis?


PEMBAHASAN


A. Etika bisnis dalam Islam yang diajarkan nabi Muhammad saw.
Etika bisnis memegang peranan penting dalam membentuk pola dan sistem transaksi bisnis yang dijalankan oleh seseorang. Dalam etika bisnis nabi muhammad, sisi yang cukup menonjol adalah pada nilai spiritual, humanisme, kejujuran, keseimbangan dan semangatnya untuk memuaskan mitra bisnisnya. Nabi muhammad sangat banyak memberikan petunjuk mengenai etika bisnis diantaranya :
1. Jujur dalam menjelaskan produk
Kejujuran merupakan syarat paling dasar dalam kegiatan bisnis. Dalam hal ini beliau bersabda “ tidak dibenarkan seorang muslim yang menjual satu jualan yang mempunyai aib kecuali ia menjelaskan aibnya”(H.R. Al-Quzwani). Nabi muhammad sendiri selalu bersifat jujur dalam berbisnis. Beliau melarang para pedagang meletakkan barang busuk disebelah bawah dan barang baru di sebelah atas.

2. Suka sama suka
يأيها الذين أمنوا الاتأكلو اموالكم بينكم بالباطل إلاان تكن تجارة عن تراض منكم. . .
“hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu” (Q.S. An-Nisa:29)

3. Tidak menipu ukuran, takaran dan timbangan
Dalam perdagangan timbangan yang benar dan tepat harus benar benar diutamakan. Sikap ini menunjukan keadilan atas apa yang diperoleh penjual dan pembeli

4. Tidak boleh menghina bisnis orang lain agar orang lain beralih kepadanya
Nabi muhammad saw bersabda “ janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.”(H.R. Mutafaqun alaih)

5. Bersih dari unsur riba
Firman allah:
يأيها الذين امنوا التقوالله وذروامابقى من ال بوا إن كنتم مؤمنين (البقرة:278)
“hai orang orang yang beriman tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman” (Q.S. Al-Baqarah)
Oleh karena itu allah dan rasulnya mengumumkan perang terhadap riba.

6. Tidak menimbun barang ( ihtikar ) 
Ialah menumpuk dan menyimpan barang dalam masa tertentu dengan tujuan agar harganya suatu saat menjadi naik dan keuntugan besar pun diperoleh. Rasululaah melarang tegas kegiatan seperti ini

7. Tidak melakukan monopoli 
Salah satu keburukan system ekonomi kapitalis adalah melegitymasi monopoli dan oligopoly. Misalnya adanya eksploitasai atau penguasaan individu tertentu atas hak milik sosial seperti air, udara, tanah serta kandungan isisinya seperti barang tambang dan mineral. Individu tersebut mengeruk keuntungan secara pribadi tanpa memberi kesempatan pada orang lain, ini dilarang dalam islam.

8. Mengutamakan kepuasan pelanggan. 
Pelaku bisnis menurut islam tidak hanya mengejar keuntungan sebanyak-banyaknaya sebagaimana diajarkan bapak ekonomi kapitalis, adam smhith, tetapi juga berorientasi pada sifat ta’ ngawun sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis sehingga pelanggan puas terhadap hal tersebut 

9. Membayar upah pekerja sebelum keringat para pekerja kering
Nabi Muhammad SAW bersabda : “berikanlah pada kariyawan sebelum kering keringatnya. “ hadist ini mengindifikasikan bahwa pembayaraan upah tidak boleh ditunda-tunda dan pembayaraan upah harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

10. Teguh menjaga amanah.
11. Toleran dalam berbisnis.
12. Menepati janji.
13. Murah hati.
14. Tidak melupakaan akhirat
Bisnis tidak boleh menganggu kegiatan ibadah kepada Allah.

15. Bersikap dalam bisnis
16. Menjual produk yang halal
Dilararang menjual komidity bisnis seperti babi, anjing, minuman keraas. Ekstasi dan sebagainaya.

17. Tidak boleh melakukaan bisnis yang dapat merugikan dan merusak  kehidupan individu dan sosial, misalnya, dilarang melakukan bisnis senjata saat terjadi kekacoan politik,tidak boleh menjual barang yang halal kepada produssen minuman keras semua bentuk bisnis tersebut dilarang islam karna dapat merusak esensi sosial yang justru harus dijaga dan diperhatikan secara cernat.

18. Tidak boleh berpura-pura menawar harga dengan harga tinggi  agar orang lain tertarik membeli dengan harga tersebut.

19. Tidak melakukan sumpah palsu.
Nabi Muhammad SAW melarang para pelaku bisnis yang melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnis. Nabi Muhammad SAW bersabda : dengan melakukan sumpah palsu barang-barang memang terjual tetapi hasilnya tidak berkah “ (H.R. Bukhori )
Praktek sumpah palsu dalam kegiatan bisnis saat ini sering dilakuakan karena dapat meyakinkan pembeli dan pada giliranya meningkatkan daya beli atau pemasaraan. Namun harus disadari bahwa meskipun keuntungan berlimpah, tetapi hasilnya tidak berkah.
Etika bisnis dalam islam yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW merupakaan hal yang paling penting dalam perjalan sebuah aktifitas bisnis profisional. Dalam hal ini etika bisnis mempunyai beberapa tujuan umum untuk  membangun kode etik islami yang mengatur, mengembangkan dan menancapkan metode berbisnis dalam kerangka ajaran islam.
Sedangkan dalam refrensi lain  disebutkan tujuan khusus dari etika bisnis adalah yang pertama dipusatkan pada upaya mencari cara  untuk menyelaraskan kepentingan strategis suatu  bisnis atau perusahaan   dengan tuntutan moralitas, sedangkan yang kedua adalah untuk melakukan dan memberikan perubahaan pada kesadaran masyarakat dalam berbisnis dengan memberikan suatu pemahaman cara  pandang baru, yakni bisnis secara keseluruan dalam upaya mempertahaankan hidup. Mencari  rasa aman, memenuhi kebutuhan sosial dengan harga diri serta mengupayaka pemenuhan aktualisai diri,  yang pada kesemuanya secara inten  terdapat nilai-nilai etika.
 

B. Etika dalam Berbisnis
Salah satu profesi yang dianjurkan dalam Islam bahkan sering tersebut dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah profesi petani dan pedagang. Karenanya banyak sekali sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berprofesi menjadi petani atau pedagang. Berdagang merupakan salah satu aktivitas bisnis. Hanya saja, di dalam Islam setiap profesi yang dibenarkan untuk ditempuh tujuannya bukan semata-mata untuk menghasilkan uang atau meraih kekayaan. Akan tetapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah untuk mendapatkan keberkahan dari hasil jerih payahnya. Dan keberkahan dari harta bukan dinilai dari kuantitasnya akan tetapi dinilai dari kualitas harta tersebut, darimana dia peroleh dan kemana dia belanjakan.
Ada banyak hadist yang menerangkan etika dalam berbisnis. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah. Maka beliaupun bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas agar manusia dapat melihatnya?! Barangsiapa yang menipu maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim no. 102)

Dari Hakim bin Hizam radhiallahu anhu dari Nabi Shallallu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Kedua orang yang bertransaksi jual beli berhak melakukan khiyar selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli. Tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan dihapus.” (HR. Al-Bukhari no. 1937 dan Muslim no. 1532)
Khiyar adalah hak untuk membatalkan transaksi jual beli. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
“Sumpah itu (memang biasanya) melariskan dagangan jual beli namun bisa menghilangkan berkahnya”. (HR. Al-Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1606)

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ
“Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam berdagang, karena dia (memang biasanya) dapat melariskan dagangan tapi kemudian menghapuskan (keberkahannya).” (HR. Muslim no. 1607)

Oleh karenanya, dalam perdagangan dan jual beli, Islam menuntunkan beberapa etika di antaranya:
1.    Tidak boleh curang dalam jual beli.
2.    Tidak boleh menutupi cacat barang dagangan dari para pembeli.
3.    Menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kebaikan dan kekurangan barang yang dia jual.
4.    Tidak boleh terlalu banyak bersumpah -walaupun sumpahnya benar- dengan tujuan melariskan dagangannya. Karena terlalu sering menyebut nama Allah pada jual beli atau pada hal-hal sepele menunjukkan kurangnya pengagungan dia kepada Allah.
5.    Haramnya bersumpah dengan sumpah dusta, hanya untuk melariskan dagangannya.


KESIMPULAN


Ada beberapa etika bisnis dalam islam yang diajarkan nabi Muhammad saw. Etika yang diajarkan beliau ini bisa menjadi panutan atau acuan bagi banyak pelaku bisnis khususnya umat islam. Berikut adalah etika bisnis dalam islam yang diajarkan nabi Muhammad saw :
  • ·         Jujur dalam menjelaskan produk
  • ·         Suka sama suka
  • ·         Tidak menipu ukuran, takaran dan timbangan
  • ·         Tidak boleh menghina bisnis orang lain
  • ·         Bersih dari unsur riba
  • ·         Tidak menimbun barang ( ihtikar ) 
  • ·         Tidak melakukan monopoli 
  • ·         Mengutamakan kepuasan pelanggan
  • ·         Membayar upah pekerja sebelum keringat para pekerja kering
  • ·         Teguh menjaga amanah.
  • ·         Toleran dalam berbisnis.
  • ·         Menepati janji.
  • ·         Murah hati.
  • ·         Tidak melupakaan akhirat
  • ·         Bersikap dalam bisnis 
  • ·         Menjual produk yang halal
  • ·         Tidak boleh melakukaan bisnis dalam eksisnya bahahya yang dapat merugikan dan merusak  kehidupan individu dan sosial
  • ·         Tidak boleh berpura-pura menawar harga dengan harga tinggi  agar orang lain tertarik membeli dengan harga tersebut.
  • ·         Tidak melakukan sumpah palsu.



sumber referensi : http://al-atsariyyah.com


Thursday, April 27, 2017

Contoh Kasus Pelanggaran Etika Bisnis


KASUS PELANGGARAN ETIKA BISNIS

(Untuk Melengkapi Tugas Etika Bisnis)


Disusun oleh :
Panji Aldio Utama
18214387
3EA47
Dosen : Bpk. Adi Kuswanto


UNIVERSITAS GUNADARMA
KARAWACI
2017 



BAB 1
PENDAHULUAN

Telkomsel diduga melakukan manipulasi dalam program “Talkmania” dengan tetap menarik pulsa pelanggan meski keutamaan dalam program itu tidak diberikan. Salah seorang warga Kota Medan, Mulyadi (37) di Medan, Selasa, mengatakan, dalam iklannya, Telkomsel menjanjikan gratis menelepon ke sesama produk operator selular itu selama 5.400 detik (90 menit -red). Untuk mendapatkan layanan itu, pulsa pelanggan akan dikurangi Rp3 ribu setelah mendaftar melalui SMS “TM ON” yang dikirim ke nomor 8999 terlebih dulu.Namun, pelanggan sering merasa kecewa karena layanan itu selalu gagal dan hanya dijawab dengan pernyataan maaf disebabkan sistem di operator selular tersebut sedang sibuk serta disuruh mencoba lagi.Tapi pulsa pelanggan tetap dikurangi, dan apabila terus dicoba tetap juga gagal, sedangkan pulsa terus dikurangi, katanya. Warga Kota Medan yang lain, Ulung (34) mengatakan, penggunaan layanan Talkmania yang diiklankan Telkomsel itu seperti “berjudi”. “Kadang-kadang berhasil, kadang kadang gagal, namun pulsa tetap ditarik,” katanya. Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK), Farid Wajdi, SH, MHum mengatakan, layanan iklan Telkomsel itu dapat dianggap manipulasi karena terjadinya “misleading” atau perbedaan antara realisasi dengan janji. Pihaknya siap memfasilitasi dan melakukan pendampingan jika ada warga yang merasa dirugikan dan akan menggugat permasalahan itu secara hukum.Secara sekilas, kata Farid, permasalahan itu terlihat ringan karena hanya mengurangi pulsa telepon selular masyarakat sebesar Rp3 ribu.Namun jika kejadian itu dialami satu juta warga saja dari sekian puluh juta pelanggan Telkomsel, maka terdapat dana Rp3 miliar yang didapatkan operator selular itu dari praktik manipulasi iklan tersebut. Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) perlu rena iklan operator selular selama ini sering menjebak, saling menjatuhkan dan tidak memiliki aturan yang jelas, katanya. Humas Telkomsel Medan, Weni yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap nomor pelanggan yang merasa dirugikan dalam layanan Talkmania tersebut. “Namun, Telkomsel telah ‘merefine’ atau mengembalikan kembali pulsa nomor-nomor (handpone) yang gagal itu,” katanya


BAB 2
PEMBAHASAN


Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menampakan kecenderungan tetapi sebaliknya, makin hari semakin meningkat. Tindakan mark up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, tidak memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan segelintir contoh pengabdian para pengusaha terhadap etika bisnis. Kasus telkomsel diatas merupakan salah satu tindakan ingkar janji karena tetap mengurangi pulsa pelanggan sedangkan fasilitas talkmania tidak diterima oleh pelanggan.

Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan lain-lain.

Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah :
  • ·         Pengendalian diri
  • ·         Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
  • ·         Mampu menyatakan yang benar itu benar.Artinya, jika pihak telkomsel benar mengadakan
  • ·         Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama.


Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Langkah apa yang harus ditempuh? Didalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Kalau sudah demikian, pengusaha yang menjadi pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi binatang ekonomi.  Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menampakan kecenderungan tetapi sebaliknya, makin hari semakin meningkat. Tindakan mark up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, tidak memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan segelintir contoh pengabdian para pengusaha terhadap etika bisnis.

Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan lain-lain. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung.

Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat interaktif. Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara, tetapi meliputi berbagai negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang nuansanya kini telah berubah. Perubahan nuansa perkembangan dunia itu menuntut segera dibenahinya etika bisnis. Pasalnya, kondisi hukum yang melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari pertumbuhan serta perkembangan dibidang ekonomi. Jalinan hubungan usaha dengan pihak-pihak lain yang terkait begitu kompleks. Akibatnya, ketika dunia usaha melaju pesat, ada pihak-pihak yang tertinggal dan dirugikan, karena peranti hukum dan aturan main dunia usaha belum mendapatkan perhatian yang seimbang.

Salah satu contoh yang selanjutnya menjadi masalah bagi pemerintah dan dunia usaha adalah masih adanya pelanggaran terhadap upah buruh. Hal lni menyebabkan beberapa produk nasional terkena batasan di pasar internasional. Contoh lain adalah produk-produk hasil hutan yang mendapat protes keras karena pengusaha Indonesia dinilai tidak memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat berharga



BAB 3
PENUTUP


3.1     KESIMPULAN

Pelanggaran etika bisnis itu dapat melemahkan daya saing hasil industri dipasar internasional. Ini bisa terjadi sikap para pengusaha kita. Lebih parah lagi bila pengusaha Indonesia menganggap remeh etika bisnis. Kecenderungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat keprihatinan banyak pihak. Pengabaian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara.

Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan lain-lain.

Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung.
Telkomsel melakukan manipulasi dalam iklan talkmania pelanggan telkomsel merasa telah di rugikan karena pihak telkomsel menjanjikan gratis menelepon ke sesama produk operator selular itu selama 5.400 detik, Tetapi hal itu tidak terlaksana. Pelanggan merasa kecewa karena setelah di coba hal itu selalu gagal dan mengurangi pulsa para pelanggan itu sendiri, Dengan kata lain pelanggan merasa di rugikan.

3.2      SARAN

 Bagi setiap perusahaan yang menjalankana suatu usaha atau bisnis diharapkan menerapkan suatu etika dalam perusahaannya. Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen. Jangan menganggap remeh suatu etika bisnis itu karena etika tersebut sangat penting bagi kemajuan perusahaan itu sendiri. Tanpa adanya suatu etika dalam bisnis mungkin perusahaan tidak akan bertahan lama karena akan menghancurkan nama baik perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu wajib bagi semua perusahaan untuk menerapkan suatu etika bisnis dalam perusahaannya.

Khusus bagi perusahaan Telkomsel jangan menjanjikan sesuatu yang belum terlaksana karena akan membuat para pelanggan menjadi tidak percaya lagi. Tindakan yang tidak etis, bagi perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen atau masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika pada umumnya perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier. Perusahaan yang menjalankan ushanya dengan didukung suatu etika bisnis akan lebih berkembang dari pada perusahaan yang tidak memiliki suatu etika berbisnis apa-apa. Oleh karena itu suatu etika berbisnis sangat penting dalam menjalankan suatu usaha.

Wednesday, April 19, 2017

PAPER ETIKA BISNIS : DILEMA ETIKA DALAM ORGANISASI

PAPER ETIKA BISNIS
DILEMA ETIKA DALAM ORGANISASI

(Untuk Melengkapi Tugas Etika Bisnis)


Disusun oleh :
Panji Aldio Utama
18214387
3EA47
Dosen : Bpk. Adi Kuswanto


UNIVERSITAS GUNADARMA
KARAWACI
2017


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Dalam bermasyarakat tentu setiap orang perlu memiliki etika yang baik dan bermoral. Oleh karena itu, penting bagi setiap manusia bisa menentukan mana yang salah dan benar, mana yang baik dan buruk. Seiring perkembangan jaman, sebagian remaja dan anak muda terkadang selalu mengikuti pergaulan yang sedang tren atau ramai diperbincangkan. Kemajuan teknologi yang terus berkembang pesat menjadi salah satu faktor perubahan bahasa, sikap, dan pribadi seseorang. Sehingga kemajuan teknologi ini tidak selamanya positif bahkan melainkan menjadi hal negatif untuk masa muda saat ini terutama menurunnya etika seseorang dalam berbudaya yang telah tercantum dalam nilai luhur dan yang diajarkannya selama ini.
Hal inilah yang akhirnya menimbulkan dilema bagi masyarakat dalam beretika baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berorganisasi. Dalam berorganisasi tentu etika diperlukan agar tujuan antara individu dan organisasi bisa selaras dan bisa dicapai. Namun dengan adanya dilema etika dapat memisahkan tujuan antara individu dan organisasi sehingga menjadi tidak selaras dan sulit untuk dicapai. Dilema etika dalam berorganisasi bisa terlihat ketika membicarakan masalah yang timbul dalam pengambilan keputusan.
Dilema etika terlihat pada situasi dimana pelaku bisnis menghadapi banyak pilihan dan tidak jelas ketika mengambil jawaban yang benar sebagai pebisnis. Pengambil keputusan memiliki dilema karena harus mengambil pilihan dengan mengetahui dampak positif dan negative atas keputusannya.
1.2   Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dan makna dilema etika ?
2. Apakah ada ciri khusus untuk dilema etika dalam organisasi ?
3. Bagaimana cara mengatasi dilema etika dalam organisasi ?
1.3   Manfaat dan Tujuan
1. Mengetahui pengertian dan makna dilema etika dalam organisasi.
2. Mengetahui ciri khusus dilema etika dalam organisasi.
3. Memberikan gambaran untuk mengatasi dilema etika dalam organisasi.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1   Definisi dan Makna Dilema Etika
Dilema etika sulit diidentifikasi karena sifatnya yang sangat spesifik dan banyak faktor situasional yang tertanam di dalamnya. Dilema etika terjadi pada situasi ketika seseorang harus memilih di antara keduanya. Beberapa orang hebat telah mendefinisikan dilema etika seperti menurut 'Doug Wallace’ dilema etika ada saat seseorang dihadapkan pada Harus membuat pilihan di antara alternatif berikut:
DILEMA ETIKA DALAM ORGANISASI
(A) Konflik nilai signifikan di antara kepentingan yang berbeda.
(B) Alternatif nyata yang sama dapat dibenarkan.
(C) Konsekuensi signifikan pada pemangku kepentingan dalam situasi tersebut.
Menurut 'Rushworth Kidder' - "Dalam dilema etika pilihan terberat adalah Kanan versus kanan. 'P. Kidder' mengatakan- " Justru mereka adalah dilema yang sebenarnya karena masing-masing pihak jelas saling keterkaitan dengan nilai intinya, empat dilema berikut sangat umum karena berdiri sebagai model, pola atau paradigma.
(I) Kebenaran versus kesetiaan
(Ii) Individu versus komunitas
(Iii) Jangka pendek versus jangka panjang
(Iv) Keadilan versus belas kasihan.
Secara umum dapat dikatakan dilema etika adalah penilaian yang kompleks mengenai keseimbangan antara kinerja ekonomi dan kinerja sosial suatu organisasi. Beberapa contoh dilema etika menurut ‘Ramesh Yadav’ adalah seorang perwira pemasaran dengan perusahaan multinasional. Perusahaan ini digunakan untuk mengikuti sistem Amerika yang berkontribusi sama terlepas dari penunjukan mereka. Suatu ketika, atasannya Anil Sharma mengundang beberapa pegawai kantor untuk makan siang untuk merayakannya Promosi Sunil ke manajer penjualan. Setiap karyawan sama-sama menyumbang Rs. 175 / - untuk Makan siang dan tagihannya dibayar oleh Mr. Sharma. Dua hari setelah makan siang Ramesh menemukannya Bahwa atasannya Mr. Sharma telah membunuh perusahaan itu selama makan siang. Dalam situasi tersebut Pak Yadav mengalami dilema etika dalam menangani situasi tersebut.
Joseph H. Boyett dan Jimmie T. Boyett telah mengutip situasi etis yang dipertanyakan
Dalam bisnis sebagai praktik yang melibatkan aktivitas ilegal yang benar, seperti mencuri Produk / praktik perusahaan. Penyalahgunaan kekuasaan, penerapan biaya pribadi untuk kontrak anggaran. Tapi situasi ini menawarkan pilihan yang jelas antara benar atau salah. Isu etis hanyalah bagian dari latihan rutin tapi jarang ditandai secara legal. Sekali lagi dilema kontrak dengan cara isu etika muncul karena dasar karakteristiknya berbeda. Dilema bersifat sangat spesifik dan sulit untuk mengidentifikasi masalah yang umumnya mudah diselesaikan dan tidak spesifik menugaskan yang benar / salah, baik / buruk cukup mudah untuk masalah etika tapi untuk dilema beberapa nilai dengan banyak pendapat apa yang benar untuk satu partai mungkin salah untuk yang lain perbedaan terpenting antara isu etis dan dilema etika adalah ketika orang menemukan dirinya dalam dilema etis, dia ingin melakukan hal yang benar tapi tidak mengetahuinya Apa itu atau tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya tapi untuk masalah etis, seseorang dapat melakukannya hal yang benar jika mereka ingin melakukan dan memiliki niat.

2.2   Ciri - Ciri Dilema Etika
Dilema etika sangat spesifik dan memiliki beberapa ciri khusus dan menonjol seperti :
1. Hasil yang tidak pasti
Seseorang tidak dapat yakin tentang konsekuensi dari pilihan etis yang diambilnya.
2. Beberapa pilihan dan alternatif
Seperti masalah etika di mana hanya dua pilihan 'ya' atau 'tidak' dalam dilema etika, situasi berbeda pengambil keputusan menemukan lebih dari dua Alternatif yang harus diperhatikan.
3. Konsekuensi campuran
Dilema etika dan masalah dalam manajemen saat dipecahkan menentangnya Satu sama lain. Satu keputusan tapi dianggap menguntungkan oleh satu pihak dan tidak menguntungkan pihak lain, misalnya, keputusan penghentian 10% Tenaga kerja dan kenaikan gaji untuk 90% tenaga kerja yang tersisa.
4. Keterlibatan langsung / tidak langsung
Apa yang akan terjadi pada situasi tertentu di mana orang menghadapi dilema etika, Satu sisi satu orang terlibat langsung dan di sisi yang lainnya itu adil yang ditinjau dari jarak jauh dan tidak terlibat langsung, keputusan yang etis jelas lebih sulit dibuat ketika orang secara pribadi terlibat di dalamnya. Misalnya, apa yang akan Anda lakukan bila atasan Anda menginginkan Anda langsung membuat tagihan TA / DA palsu dan mentransfernya ke dia? Jadi, apakah Anda akan mengikutinya? Atau meniup peluit melawan dia? Dalam kedua kasus Anda akan berada dalam masalah.
5. Merupakan kepercayaan umum bahwa keputusan etis mengurangi keuntungan ekonomi perusahaan Namun tidak berdampak langsung pada gaji manajer atau prospektus mereka yang lain. Begitu Para eksekutif terkadang memilih jalan di mana margin keuntungan bisa mengurangi, menjaga diri mereka di sisi yang lebih aman. Jadi untuk menyimpulkan kita mengatakan bahwa dilema etika sangat kompleks. Memilih salah satu di antara beberapa pilihan yang cukup sulit dan juga berisiko.

2.3   Pendekatan dan Metode Penyelesaian Dilema Etika dalam Organisasi
Faktanya tidak ada cara mudah untuk menemukan pendekatan dan metode yang praktis yang membantu menyelesaikan etika dilema. Seiring tingkat kompleksitas meningkat, risiko memilih dan menerapkan pendekatan dan metode akan menjadi lebih sulit. Ada beberapa pendekatan klasik dan metode tradisional berkembang dalam menyelesaikannya dilema etika yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Utilitarian (pendekatan berbasis akhir)
Sistem utilitarianisme berasal oleh pemikir Inggris Jeremy Bentham (1748- 1832). Ini bertujuan untuk menciptakan tingkat manfaat terbesar bagi jumlah orang terbesar. Menurut sistem ini, perilaku manusia dianggap baik jika menghasilkan keuntungan untuk masyarakat dan buruk jika menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Faktanya Utilitarianism adalah versi spesial dari "Teleology". Teleologi sangat ditekankan Atas hasil tindakan individu dan bukan pada maksud individu. Itu Mengapa disebut sebagai "Konsekuensialisme" atau etika berbasis akhir
2. Universalisme (rule based)
Pendekatan universalisme didasarkan pada tugas dan kewajiban individu (Tata susila). Nilai moral pada tindakan individu harus dinilai berdasarkan keinginan orang tersebut, bukan hasil tindakannya. Ini mengasumsikan bahwa niat baik selalu dihasilkan dalam hasil yang baik, akhirnya jika tidak segera. 'Immanuel Kant' (1724-1804) mengusulkan "Imperatif Kategoris" - Seseorang harus bertindak hanya dengan cara yang seseorang ingin agar semua orang bertindak sama menetapkan keadaan, dan juga memperlakukan orang lain dengan harga diri dan rasa hormat. Nilai semua orang sama. Oleh karena itu tidak ada hak yang harus di bawah hak yang lain.
3. Pendekatan berbasis perawatan
Anda harus mencadangkan dilema dengan mengingat bahwa Anda memiliki kewajiban memiliki hubungan dekat dengan anda atau tidak ada yang peduli dengan Anda. Anda harus merawat mereka hanya untuk mempertahankan ikatan yang kuat dalam hubungan, namun beberapa orang hebat berpendapat untuk menentangnya bahwa hal itu akan menciptakan pilih kasih saat bekerja dengan orang-orang yang berharga. Hubungan juga bisa merosot menjadi favoritisme yang tidak adil dan pengorbanan kebutuhan sendiri Untuk merawat anak, orang tua, pasangan dan teman yang memiliki hubungan dekat dengan Anda.
4. Etika Kebajikan
'Peter Partley' (Inti dari etika bisnis) Berkata - "Etika kebajikan dapat diwakili Sebagai konstruksi mental dengan kehati-hatian. Lebih tepatnya konstruksi logam ini memiliki dua Plafon - satu dimahkotai oleh kehati-hatian pribadi dan yang lainnya oleh kehati-hatian publik. Itu Citra menggambarkan bagaimana kita bisa membedakan dua bidang keunggulan, baik publik maupun swasta Menjadi seseorang harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang corporate private dan kesejahteraan sosial. Secara umum kita mengatakan bahwa ketika seseorang mengikuti etika kebajikan yang berarti sementara melakukan tindakan apapun dia harus mengembangkan karakter moral yang saleh. Metode pemecahan dilema etika dilema etis terjadi dalam organisasi dalam berbagai bentuk, kerangka dan struktur Jadi satu metode unik dan tidak unik dapat diterapkan untuk mengatasinya. Setiap organisasi memiliki strategi sendiri, prosedur yang direncanakan untuk menangani dengan dilema etis. Umumnya sebuah komite manajer tingkat atas sedang menyiapkan untuk memilih pendekatan dan metode yang tepat untuk mengatasi dilema etika. Beberapa metode telah diberikan oleh orang-orang hebat seperti
1. 'Rushworth Kidder'- Sembilan langkah prosedur untuk menghadapi dilema etika.
2. 'Wallace dan Pakel'- Sepuluh langkah pengambilan keputusan.
3. 'Laura L. Nash' - mengajukan dua belas pertanyaan untuk mengatasi dilema etika.
4. Sembilan langkah untuk menghadapi dilema etika (oleh Rushworth Kidder)
(ekstrak dari Bagaimana orang baik membuat pilihan - "Mengatasi dilema kehidupan etis, William /
Morrow, New York, 1995).
1. Tentukan masalah dan jelas kenali masalah moral di dalamnya.
2. Tentukan siapa yang akan mempengaruhi keputusannya? Apa peranmu?
3. Sampai dan kecuali dilema etis dapat dikurangi menjadi isu umum yang Meskipun sulit tapi mudah dikelola, sulit untuk mengatasinya untuk yang satu ini Harus mengumpulkan informasi dan fakta bagaimana masalah terjadi.
4. Isolasi isu-isu ilegal yang terlibat dalam masalah dengan menguji hak versus salah.
5. Sekarang waktunya telah tiba untuk membuat pilihan terberat
Yang benar versus paradigma yang tepat seperti :
Keadilan V / s belas kasihan
Jangka pendek V / s jangka panjang
Kebenaran V / s loyalitas
Komunitas V / s individu
6. Pada tahap ini Anda dapat memilih salah satu pendekatan yang tepat untuk mengatasi dilemma seperti :
• Perawatan berbasis
• Aturan berbasis
• End based Atau etika kebajikan (sudah dibahas sebelumnya)
7. Cari tahu apakah ada cara lain untuk keluar dari situasi.
8. Putuskan dan Bertindak - akhirnya pilih pendekatan yang menurut Anda paling sesuai, Putuskan dan ambil tindakan
9. Review keputusan-
Terlepas dari metode 'Hosmer' (disebutkan di atas) telah diberikan lima hal Yang harus diikuti untuk membuat isu etis dan dilema jauh lebih sederhana Dari sebelumnya-
(i) Keputusan yang diambil oleh manajer harus ditangani dengan hati-hati Konsekuensi dapat mempengaruhi organisasi maupun masyarakat.
(ii) Pilihan etis penuh dengan hasil yang beragam. Satu sisi manfaat sosial dan Sisi lain pendapatan keuangannya.
(iii) Jika Anda melihat dari lapisan atas Anda akan menemukan ada dua potong yang jelas
Alternatif 'Ya' atau 'tidak' tapi sebenarnya sebagian besar penerbit etis Beberapa alternatif sama-sama bisa diperdebatkan.
(iv) Bagaimana keputusan etis dan implikasi pribadi terkait dengan masing-masing
lain? Sebagian besar keputusan etis memiliki implikasi pribadi meski umum Keyakinan mengatakan keputusan etis diisolasi dari karir eksekutif.
(v) Tingkat ketidakpastian sangat tinggi dalam masalah etika, tidak pasti Konsekuensi dengan penuh risiko dan keraguan tertanam dalam etika keputusan.

2.4 STANDAR PLATINUM ETIKA
'Scoft W. Ventrella' (keunggulan eksekutif, Juli, 2001) memberikan standar platina Etika untuk menghadapi dilema etika sebagai berikut:
1. Tanyakan kepada diri sendiri - Masalah siapa itu? Apakah ini merupakan kasus kepentingan atau pertanyaan yang bertentangan Benar dan adil? Dalam 'Power of Ethical Management' Norman Vincent Peale dan Ken Blanchard bertanya:
(I) Apakah itu legal atau ilegal? Apa yang Anda lakukan sesuai dengan kebijakan atau melawan Kebijakan maka jangan lakukan itu dan.
(Ii) Seberapa besar keadilan di sana? Jika memberi manfaat sedikit, jangan lakukan itu.
(Iii) Pada akhirnya apa analisis diri saya? Bagaimana perasaanku terhadap diriku sendiri?
2. Apakah keputusan tersebut secara akurat mencerminkan jenis orang Anda? Apakah karakter anda cocokkan keputusanmu apakah anda mengikuti-Mempraktikkan apa yang Anda khotbahkan?
3. Hati-hati dan sadar akan tindakan apa yang anda tunjukkan dan coba bayangkan situasinya bahwa jika semua transaksi, tindakan, panggilan telepon anda diperhatikan, dicatat dan selanjutnya
Melaporkan apa hasilnya.
4. Jaga kata-kata anda - Seberapa kuat Anda memenuhi komitmen anda. Apakah itu cara Anda? Buat janji dengan ringan, terkadang terpenuhi dan terkadang tidak. Jika demikian maka beberapa praktik akan diikuti oleh bawahan dan rekan anda. Jadi cobalah untuk mengatakan tidak Anda tidak bisa menyelesaikannya atau tidak ingin menyelesaikannya atau tidak tahu bagaimana melakukannya.
5. Mengembangkan dan mempertahankan integritas - Nilai yang paling kuat adalah integritas yang memiliki :
• Keberanian (mengatakan yang sebenarnya).
• Disiplin dan kontrol diri.
• Kebaikan-kejujuran, moralitas, kebaikan hati, keadilan, kemurahan hati.
• Kekuatan pusat - yang memberi kita alat navigasi, bagaimana caranya melewati lanskap etik yang kabur.
• Hidup oleh kebenaran batin dan pikiran batin agar tetap menjadi tidak binasa, bersih dari tendangan balik dll biarkan pikiran Anda dipandu oleh hati nurani.


BAB 3
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
Dilema etis adalah situasi tertentu dimana para pengambil keputusan menghadapi kesulitan pilihan tanpa jawaban yang  benar benar ada. Karena beberapa fitur special dan berbeda seperti konsekuensi yang tidak menentu, beberapa alternatif, dll. Manajer dan eksekutif harus melakukannya hati-hati dalam menghadapi dilema etika. Meskipun beberapa metode tradisional telah ada Dikembangkan yang membantu pengambil keputusan untuk menangani situasi yang kompleks dan membuat etika keputusan.

3.2   Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.